Tampilkan postingan dengan label Cerpen Koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Koran. Tampilkan semua postingan

28/06/14

Cerpen : Teknik menjadi walikota

Cerpen Sumatera Ekspres, 17 Juni 2012 – oleh Dadang Ari Murtono
TIDAK ada yang meragukan kemampuannya sebagai pemimpin di kota kami yang kecil. Tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam memecahkan masalah apa pun yang timbul di kota kami yang kecil. Dan itu pula sebabnya seluruh penduduk kota mencintainya. Lalu memilihnya kembali ketika musim pemilu tiba.

Cerpen : Saku Celana

PERTAMA kalinya, secara tak sengaja, ketika aku hendak mencuci celana kotormu, aku menemukan sebuah koin berkerak di saku celanamu. Untuk sebuah koin karatan seperti itu, tentu saja aku tak perlu meminta izinmu untuk mengalihkan hak kepemilikannya. Itu hanya koin yang mungkin hendak kau berikan pada pengemis lalu kau lupa (atau barangkali, malah kau yang mengemis koin itu dari seseorang?). Maka kualihkan saja tempat koin itu, dari saku celanamu ke saku dasterku. Lumayan, buat kerokan.

Cerpen : Kota Livia

Cerpen Koran Tempo, 24 Juni 2012 – oleh Pierre Mejlak
KALI ini Livia membangun sebuah kota. Ini kota pertama setelah sebelumnya dia membuat sebelas pulau berturut-turut yang kini dikumpulkannya di dalam sebuah wadah merah lembut yang dia ambil dari laci di samping ranjangnya ketika ayahnya pergi minum kopi pada petang hari meninggalkannya sendirian.

Cerpen : Bunuh Diri

Cerpen Suara Merdeka, 24 Juni 2012 – oleh Kun Himalaya
Badrowi hendak bunuh diri. Sudah berkali-kali dicobanya. Sekali, hendak diputusnya kontrak kehidupan pada seutas tali. Sayangnya, dahan yang disangkanya liat tak kuasa menahan tubuhnya. Dahan itu patah menjadi dua. Lain waktu Badrowi meminum baygon.

Cerpen : Julliet de julie

Cerpen Koran Tempo, 1 Juli 2012 – oleh Dias Novita Wuri
YANG satu ini cukup tampan juga, pikir Julie seraya menyingkirkan sejumput rambut dari dahinya. Sangat muda, dan sangat kaya. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi pria itu—anak laki-laki itu—yang meneteskan keringat dan terengah-engah di atasnya nyaris tanpa suara.

Cerpen : Polisi dan Supir

Cerpen Sumatera Ekspres, 1 Juli 2012 – oleh Dodi Mawardi
MIKROLET itu dipepet motor polisi. “Baru keluar Pak!” kata sopir mikrolet. Polisi itu, Suryo, terlihat di papan nama yang menempel di dada, tidak menyahut.
Tampangnya seram dengan kumis tebal dan kacamata hitam. Tangannya memberi tanda agar mikrolet menepi.

Cerpen : Kabut Ibu

Cerpen Kompas, 8 Juli 2012 – oleh Mashdar Zainal
Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.