Tampilkan postingan dengan label Mari Tertawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mari Tertawa. Tampilkan semua postingan

27/06/14

Jembatan Cinta Zuck Linn

      Minggu pagi yang biasa aja, ga mendung ga cerah ga hujan, Zuck dan Linn blusukan ke hutan tempat mereka tersesat dulu. Kali ini mereka bukan mau tersesat lagi, tapi mau berburu. Zuck berjalan di depan dengan memanggul senjata senapan angin, langkahnya meyakinkan mirip gerilyawan berangkat perang. Sementara di belakangnya, Linn terlihat sedikit kepayahan. Salah sendiri sih, masuk hutan pake stiletto.

"Tungguin dong, Mas. Jalannya barengan biar cepet sampai..." seru Linn.

Zuck menurunkan kecepatan langkahnya. Menunggu Linn.

"Setiap ke hutan ini, aku selalu teringat kamu deh, Sayang," kata Zuck kemudian.

"Maksudnya, Mas?" Linn ga ngerti.

Zuck nyengir bernard bear. "Sama-sama lebat, ahihihi....

"Apaan sih" Linn masih ga ngerti.

"Hutan ini banyak pohonnya.." Zuck mengalihkan pembicaraan.

Linn menatap ke sekililing. "Iya Mas, banyak pohonnya. Ga asik. Cari hutan lain yuk Mas, yang ada mall-nya gitu..."

Zuck diem saja sambil mempercepat langkahnya. Males nanggepin omongan orang stress. Lokasi berburu masih jauh. Mereka melewati jalan setapak yang mulai bersemak. Soalnya jalan itu jarang banget dilalui orang.

"Yang kita buru apa aja nanti, Mas?"

"Apapun. Rusa, kancil, kijang, kadal rusia, ikan gabus, semut. Semua ditembak...

Linn manggut-manggut, lalu kembali bertanya. "Kalo babi?"

"Mmm... Kalo itu enggak deh.."

"Loh, kenapa babi ga ditembak, Mas? Cieee... Takut ditolak yaa..?"

Zuck menoleh ke arah Linn. Tersenyum. "Ga mungkinlah, Sayang. Masa nembak sodaramu. Kasian..."

"Hehehe iya lupa. Dia kan sodara iparku.."

"Hih!" Sungut Zuck. "Susah emang ngobrol sama karet gelang. Ga mau ngalah! Ngalah kenapa sih sama cowok?"

"Kebalik Mas, yang mustinya ngalah itu cowok!"

"Cewek kalik!"

"Cowok tauk!"

"Cewek!"

"Ya cowoklah.."

"Cewek! Pokoknya cewek! Titik!"

"Pokoknya cowok! Titit!"

"Cewok! Ya cewok aja, biar adil.."

Linn tertawa. "Yaudah, cewek aja yang ngalah gapapa..."

"Hehehe. Cowok deh, cowok. Emang udah kodratnya sih, cowok harus ngalah.."

"Nggak Mas, cewek yang sebenarnya harus ngalah."

"Cowok dong.."

"Cewek ih!"

"Cowok!"

"Cewek!"

Mereka terus berdebat tanpa ada yang rela ngalah, hingga tau-tau perjalanan mereka sampai di sebuah sungai kecil. Untuk menyebrangi sungai itu, mereka harus melalui jembatan kayu yang terlihat sudah lapuk.

"Cewek!"

"Udah, Sayang. Udah. Tahun depan diterusin lagi debatnya," tegas Zuck.

Linn diam menurut.

"Sekarang, yang perlu kita pikirin adalah menyebrangi sungai ini. Lokasi berburunya di sebrang sungai. Emm... Sayang nyebrang duluan ya?"

Mata Linn sedikit terbelalak. "Kok aku sih, Mas?"

"Lah... Kan cowok harus ngalah, Sayang? Kalo aku yang nyebrang duluan, dan kamu ditinggal di sini sendirian, nanti kalo dari belakangmu ada harimau gimana? Kan kasian harimaunya, dapat daging kurus.."

"Tapi jembatannya Mas, jembatannya. Lihat deh, udah keropos di seribu tempat! Nanti pas lagi enak-enak jalan tiba-tiba ambruk, trus aku jatuh..."

"Ya jatuh paling-paling ke bawah kan, Sayang? Lagian Sayang udah punya pengalaman jatuh dari khayangan. Ayo dong.."

"Kita nyebrang sama-sama aja, Mas?" Linn memberi usul.

"Ini dilewati satu orang aja belum tentu kuat loh, Sayang. Apalagi berdua?"

"Aduh, Mas. Jangan menilai sesuatu cuma dari luarnya. Yang kelihatannya rapuh, belum tentu aslinya rapuh, bisa saja dia itu kuat. Begitupun jembatan ini..."

Zuck memandang Linn takjub. "Tumben ngomongnya..."

"Kita nyebrang bareng, aku ga bisa jauh darimu, Mas. Kalo selamat, selamat berdua. Andai jatuh, ya jatuh bersama-sama."

"Tapi aku masih ga yakin sama jembatan ini sih, Beb?" kata Zuck, seraya memperhatikan kondisi jembatan dengan seksama dan dalam tempo yang agak lama.

"Makanya kita coba dulu. Kalo cuma ngobrol gini terus kapan kita sampai ke seberang? Segala sesuatu itu harus dicoba dulu, supaya...

"Kok ngomongnya gitu sih, Sayang? Aku ga suka!" potong Zuck. "Kamu berubah. Sekarang jadi bijak. Jangan kebanyakan nonton Mario Teguh sih..." lanjut Zuck, yang lebih suka Linn tampil error kayak biasanya.

"Baiklah, kita nyebrangnya barengan," Zuck akhirnya setuju.

Setelah berdoa cukup lama dan bersalaman bermaaf-mafan, merekapun bersiap-siap menyeberang. Sebelum menyebrang, mereka menengok kanan kiri, takut ada mobil lewat.

Dan dengan bergandengan tangan yang erat, mereka mulai menapaki jembatan selangkah demi selangkah. Jantung mereka deg-degan. Kaki mereka sedikit bergetar. Takut kayu jembatannya tiba-tiba ambruk tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Akhirnya, setelah 5 menit yang mendebarkan, mereka sampai di seberang dengan selamat.

"Hiaaaa! Benar kan Mas ga apa-apa, segala seuatu musti dicoba dulu..." seru Linn kegirangan.

"Iya. Kamu bener, Beb."

"Yaudah yuk, kita nyebrang kembali ke tempat yang tadi."

Zuck melongo dan mengernyitkan dahi. Ga ngerti.

"Lha tadi kan cuma nyoba, jembatan masih kuat atau ga. Ternyata masih," jelas Linn, kemudian meraih tangan Zuck dan menariknya kembali menyebrang.

Zuck ngikut saja, meski ia merasa seperti sesuatu ada yang salah.

Begitu sampai di seberang:

"Nah, sekarang baru nyebrang yang beneran, Mas. Yuk ah, keburu sore.."

"I.. iya, Sayang. Sekarang baru nyebrang yang beneran...

Merekapun menyebrang sekali lagi. Karena sudah yakin jembatannya masih kuat, kali ini langkah mereka lebih ringan dan tidak sehati-hati tadi. Dan, menjelang mendekati tengah-tengah jembatan, tiba-tiba.... BRAAAKKK!!! Kemudian... BYUURRRR!! Jembatan kayu yang sebenarnya memang sudah rapuh itu patah tah! Akibat tidak kuat menahan beratnya cinta Zuck dan Linn.

Semoga mereka ga apa-apa.

Bunga I love you..


          Selain pernah sakit karena jatuh dari pohon kenari, gue juga pernah merasakan sakit karena jatuh cinta. Gue ditolak cewek itulah intinya. Sebut saja namanya Bunga. Itu hanya nama samaran, kayak korban-korban perkosaan di koran. Sebab kalo gue tulis nama aslinya Kinyandri Agnesia gitu, gue takut kena tuntut.
Dia baru sebulan pulang kampung sehabis lulus kedokteran di Jogjakarta. Dulu kami sekolah di SMA yang sama. Dia cerdas kayak gue. Kami sering mengharumkan nama sekolah. Dia sering juara cerdas cermat, lomba pidato, bulu tangkis, dan pernah menjadi paskibra tingkat propinsi. Sementara gue, mengharumkan nama sekolah dengan nyemprotin parfum ke papan nama sekolah. Setelah tamat SMA, Bunga melanjutkan pendidikan ke Indonesia jurusan kedokteran, sementara gue tetep di Pekanbaru kuliah ambil jurusan sastra mesin.
Bunga emang cantik, tapi ga malu-maluin buat digandeng ke mall apalagi ke kondangan sunatan. Kulitnya putih, rambutnya hitam, lubang hidungnya dua. Body-nya juga bagus seperti gitar-gitar dari negara-nya David DeGea. Udah gitu punya bokap yang tajirnya masuk daftar 547 orang terkaya sekampung. Sawahnya luas sapinya banyak mobilnya delapan istrinya dua. Bayangin deh!
Begitu Bunga balik dari Jogja, cowok-cowok kampung langsung sibuk merenovasi diri buat modal mendekati Bunga. Pun gue, walo dengan modal yang ga seberapa pantas untuk dibanggakan, tetap ga mau kalah. Maju terus pantang malu. Jaman penjajahan aja, para pahlawan cuma bermodal bambu yang diruncingin, ga gentar melawan kompeni yang pake bedil.
Singkat status, setelah pedekate alakadarnya, pada suatu kesempatan gue nembak Bunga. Simpel aja. Ga pake pistol, ga pake, cincin, ga pake seiket kembang, ga didahului pembacaan puisi, ga disiarin langsung di tipi. Lokasinya pun amat sangat simpel: di sebelah kandang sapi! Bukan di restoran mewah bercahayakan lilin kecil apalagi di kapal pesiar.
"Bunga, IPK kamu berapa deh. Kenapa pinter banget bikin aku kangen?" gue memulai pembukaan acara katakan cinta.
Bunga cuma tersenyum. Sambil mengelap keringat di wajah dan lehernya pake tisu.
"Gemesin leher jenjang kamu, Bunga. Mau ga kusembelih?"
"Ihh apaan sih! Ya enggaklah!"
"Disembelih ga mau. Mm... Tapi kalo jadi pacarku mau kan?" Peluru udah ditembakan.
Target tampak melongo dongo. Dalam hati gue berdoa semoga peluru cinta gue tadi ga salah sasaran mengenai sapi.
"Aku cinta sama kamu, Bung..
Peluru kedua. Untuk sesaat Bunga tampak terhenyak. Mulutnya bergerak-gerak seperti mau ngomong sesuatu tapi sulit untuk diungkapkan. Mungkin dia syok, seumur hidupnya ga pernah menyangka bakal ditembak oleh lelaki terganteng di seantero desa ini.
"Ka... Kamu serius?" Tanya Bunga dengan suara terbatu-bata.
"Serius..."
"Serius banget apa serius aja?"
"Serius banget!"
"Serius banget nget nget nget?!"
"Iya Bunga. Banget parah sumpah!"
"Baiklah. Kalo emang bener-bener serius. Emm... kita ke kamar yuk? Kamar aku."
"Hah! Ngapain?!"
"Aku mau tunjukin sesuatu, ihihihi...
Tanpa permisi Bunga langsung meraih tangan gue dengan mesra. Owh... Indahnya dunia. Rumput-rumput seakan menjadi bunga. Kandang sapi bagaikan istana. Bunga menarik tangan gue, dibawanya pergi menjauh dari istana eh kandang sapi, menuju rumahnya.
"Kita langsung ke atas ya? Kamarku di lantai 3," kata Bunga tersenyum sedikit genit.
"Beneran ke kamar nih?" tanya gue deg-degan. Gue merasa sebentar lagi keperjakaan gue bakal hilang.
Bunga tersenyum dan terus menggandeng gue naik. Sampai di lantai 3, Bunga membukakan pintu kamarnya untuk gue. Kreekk..
"Silahkan masuk... " kata Bunga dengan manisnya.
Suer! Gue masih belum sepenuhnya percaya bisa berduaan sama Bunga, di kamarnya yang wangi, dengan ranjang yang bagus bersih dan pasti empuk itu. Gue cubit-cubitin pipinya Bunga. Dia merasakan kesakitan. Berarti ini bukan mimpi?
"Emm... Udah di kamar nih, trus..." kata gue malu-malu kucing garong, makin deg-degan, dalam benak udah tergambar adegan aril luna maya.
"Zuk, coba kamu ke lemari itu deh bentar..."
"Emang ada apa?" tanya gue sambil melangkah gagah menuju lemari.
"Jadi gini, di lemari itu kan ada cerminnya ye kan? Nah, seharusnya sebelum nembak gue, lo tuh bercermin dulu!! Lo tuh siapa?! Ngaca woey! NGACA!!" *banting beha*

25/06/14

Orang Indonesia Kelewat Ramah

     
Masyarakat Indonesia memang terkenal dgn keramahannya. Bahkan saking ramahnya, hal2 yg udah tau jawabannya pun masih ditanyakan. Contoh: Pas Hari jumat siang, sudah jelas2 gue pake peci pake baju koko pake sarung lengkap dgn sajadah nyelempang di pundak. Dengan penampilan sealim itu, bencong India pun pasti sudah tau kalo gue mau jum'atan. Tapi masih ada saja yg nanya: "Mau jum'atan Min?". Gue jawab: "Enggak! Mau nyari ganti sendal!" *bawa karung*

Bukan bermaksud ngasih jawaban ngawur, tapi sebagai lulusan terbaik RSJ Grogol terkadang perlu menerapkan ilmu pengetahuan gila yg didapat selama masa karantina. Karena tanpa dijawabpun sesungguhnya si penanya udah tau. Intinya pertanyaan itu cuma sekedar basa basi, yg memang merupakan cabang keramahan ciri khas bangsa Indonesia yg perlu dilestarikan. Pake selop nonton Chelsea, I Lop INDONESIA! Eeaa.. *muntah beha batik*

Begitupun kalo ada basa basi lainnya, biasanya gue ngasih jawabannya yg ga kalah basi!

> "Kamu nangis yah?"
- "Nangis apaan?! Sok tau deh lo, gue lagi latihan pipis lewat mata!"

-------

> "Kok jalan kaki?"
- "Terpaksa, mau ngesot takut ditendang satpam!"

------

> "Lagi nelepon ya?"
- "Enggak, gue lagi ngorek2 telinga pake antena hape...

-------

> "Mau tidur ya?"
- "Enggak kok, cuma mau ngebiasain memejamkan mata, biar nanti matinya gampang..

-------

> "Kamu mimisan?"
- "Bukan woey! Gue lagi menstruasi dari hidung!"

-----

> "Lagi mancing mas?"
- "Enggak! Lagi mandiin cacing!"

------

> "Nonton TV bang?"
- "Enggak lah yau, TV tuh yg justru nonton gue!"

------

> "Mau kuliah mas?"
- "Enggak kok, mau ketemu satpam kampus, gantengnya ga nahan cyin...

--------

*di toilet*
> "TOK TOK TOK! Ada orang ga di dalam?!"
- "Ga ada! Masuk aja, ini yg jawab tai kok...

------

SILAHKAN TAMBAHIN...

Penampakan Hantu dirumah Pacarku

Begini ceritanya..

Waktu itu aku di ajak pacarku pertama kali ke rumahnya. Dia adalah pacar baruku yang baru berjalan selama seminggu.

Sesampainya di rumahnya. Aku pun di kenalkan dengan adiknya yang masih kecil. kira-kira usia adiknya sekitar 5 tahun. Doi tinggal di rumah dengan adiknya dan neneknya. Kebetulan saat itu neneknya sedang tidak ada di rumah. Jadi aku pun tidak terlalu malu masuk ke rumah doi untuk yang pertama kalinya.

Tak lama setelah kami masuk ke rumahnya, si doi minta izin kepadaku untuk mandi dan mencuci sebentar. Aku pun di tinggal sendirian di ruang tamu. Dan adiknya kembali masuk ke ruang keluarga.

Suasana rumah pun sepi. Yang terdengar hanyalah suara si doi yang sedang mencuci baju di kamar mandi. Sedangkan adiknya tidak tau entah kemana. Tapi tak lama kemudian, adik si doi datang menghampiriku.

''kak..kak.. Temenin aku main game yuk..!'' pinta adik si doi ke padaku.

Sebagai pacar kakaknya, aku pun menuruti kemauan adik si doi tersebut. Maka kami berdua bermain game sambil menunggu kakaknya selesai mencuci dan mandi.

Cukup lama kami bermain game. Sedangkan kakaknya belum juga selesai di mandi. Hingga aku merasakan haus dan belum di suguhin air minum. Aku pun beranjak pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

Sesampainya di dapur..

''ASTAGA...!!!'' ujarku kaget setengah mati.

Di dapur itu aku bertemu lagi dengan adik si doi yang sedang makan di meja makan dengan lahapnya.

''Lhooh..? Kok kamu ada di sini..? Bukannya kamu sedang main game di ruang keluarga..?'' tanyaku pada adik si doi dengan sangat heran.

''kakak ngomong apa..? Aku tidak ngerti.. dari tadi aku di sini kok makan nasi dan tidak kemana-mana..!'' sahut adik si doi kepadaku.

DEEEG...!!!

Betapa merindingnya aku mendengar jawaban adik si doi itu.

''kalau begitu, aku tadi main game dengan siapa..?'' ujarku dalam hati semakin ketakutan dengan bulu kuduk yang sudah merinding.

Suasana di rumah itu pun semakin mencekam. Aku pun mundur meninggalkan adik pacarku itu di dapur dan kembali lagi ke ruang keluarga. Tapi baru saja aku sampai di ruang keluarga, aku pun di kejutkan lagi dengan adik pacarku itu. Di sana ku jumpai lagi adik si doi sedang asik bermain game di depan TV sambil menoleh ke arahku dan tersenyum lebar kepadaku.

''Lhooh..? Kok kamu udah di sini lagi..?'' ujarku kepada adik si doi.

''kakak ini kenapa..? Aku dari tadi ngak kemana-kemana kok..!!!'' sahut adik si doi kepadaku

''ya tuhan.. Ternyata di rumah ini ada hantunya..!!!'' ujarku dalam hati.

Aku langsung berlari kembali ke dapur. Dan di sana aku bertemu lagi dengan adik si doi yang masih duduk di bangku meja makan dan sambil tersenyum lebar kepadaku.

Benar dugaanku. Di sini memang ada hantunya.

Aku pun semakin panik ketakutan dan berlari ke kamar mandi sambil mendobrak pintu kamar mandi dan berteriak hysteris.

''TOLONG AKU.. ADA SETAN DI RMUAH INI...!!!!'' teriakku ketakutan sambil memeluk pacarku yang sedang mandi.

Melihat aku yang sangat ketakutan itu, pacarku pun langsung teriak.

''UPIN...!!!! IPIN...!!!! APA YANG KALIAN LALUKAN SAMA PACAR KAKAK..!!!!'' bentak pacarku memarahi adiknya dari dalam kamar mandi sambil berkacak pinggang.

GUBRAK...!!!

''Ternyata adiknya si doi itu kembar'' ujarku dalam hati menahan malu dan juga menahan nafsu sambil betulin celana.

Angkot Setan

Siapa sangka, ternyata kota bandung mempunyai banyak kejadian angker yang sering kali mengganggu warga terutama bagi orang yang pikirannya sedang kosong. Tidak di pungkiri lagi, orang yang suka melamun akan sangat gampang di ganggu setan bahkan sampe kerasukan. Apalagi kalau kita dalam keadaan stres atau kata gaulnya ''lagi GALAU'' #catet mem.. Catet.......D-:

Seperti kisah berikut ini yang di alami oleh seorang wanita kenalan temannya dari teman admin yang berteman dengan teman dari temannya lagi yang bekerja di salah satu bank swasta.

Nama aku Fitri Imud. Kenapa namaku Fitri Imud..? Ya karena aku itu imut-imut dan aku lahir saat hari raya idul ad'ha. Jadilah aku di panggil Fitri Imud. #Lhooh..?

Waktu itu aku mendapat tugas lembur dari kantor bank. Sehingga aku pun terpaksa harus pulang larut malam. Kantorku berada di daerah Cimahi. Sedangkan rumahku berada di daerah Antapani.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah saat aku pulang. Tapi di luar sedang turun hujan lebat. Sedangkan aku sudah sangat kemalaman untuk pulang.

''wah..! Gimana ini..? mau pulang malah hujan.'' gerutuku dalam hati.

Akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan reda sambil berteduh di depan kantor dan berharap ada angkot yang lewat.

Satu jam kemudian, hujan pun berangsur reda. Kendaraan yang lewat pun sudah semakin sepi. Tapi untungnya ada sebuah angkot jurusan antapani yang lewat di depan kantorku. Langsung saja dah aku setop angkot itu dan buru-buru masuk kedalam angkot tersebut.

Di dalam angkot, aku langsung memilih tempat duduk paling pojok. Di sebelahku ada ibuk-ibuk. Namun di depanku ada seorang bapak-bapak berpakaian serba putih dan rambutnya acak-acakan. Di sebelah bapak itu ada seorang kakek tua yang tampaknya buta.

Ini membuat pandanganku tertuju pada bapak itu yang sedang duduk bertopang tangan pada lututnya tanpa bergeming sedikit pun. Pandangannya kosong dan mukanya pucat dengan mata melotot. Aku pun agak risih melihat bapak itu karna tampangnya agak menyeramkan.

Tak lama kemudian angkot pun berjalan. Kulihat di sekitarku, penumpang lainnya pada diam dan tatapan mereka pun tajam ke depan tanpa bergerak sedikit pun. Ku lihat lagi bapak-bapak yang ada di depanku. Bapak itu tampak melotot ke arahku kemudian menundukkan kepalanya lagi. Aku pun heran dengan semua penumpang yang ada di dalam angkot ini. Seperti ada yang ganjal tapi aku tidak mengerti dengan suasana seperti ini. Yang jelas, bulu kutukku sudah berdiri dari tadi.

Ku tatap lagi bapak yang ada di depanku.

ASTAGA...!!!

Bapak itu melotot kearahku dan bola matanya pun terlihat semakin besar seolah-olah ingin keluar dari matanya. Dan dia tersenyum lebar dengan ekspresi yang sangat menyeramkan. TIBA-TIBA.....

''hi..hi..hi..hi..hi...!''

Bapak yang ada di depanku pun tertawa cekikikan dengan suara yang agak sedikit parau.

''OH TIDAAAAK...!!!!''

Bapak yang ada di depanku itu, matanya semakin besar.. Bahkan lebih besar lagi dan bola matanya itu sudah hampir keluar dari kelopak matanya.

''OH MY GOOOOD....!!!''

Bagaikan tersengat listrik.. Sekujur tubuhku pun gemetaran dan keringat dingin pun mengalir dari setiap pori-pori kulitku. Aku langsung ambil tindakan untuk kabur dari angkot ini. Tapi belum sampat aku beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba bapak itu pun bergumam....

''biru muda...'' dan setelah itu, semua penumpang yang ada di depanku langsung menoleh ke arahku dengan mata mereka yang ikut-ikutan melotot ke arahku.

''KAMPREET...!!! TERNYATA BAPAK ITU DARI TADI SEDANG ASIK MELOTOTIN CELANA DALAM KU..!!!'' gerutuku sambil nutupin rok miniku pake tangan.